
TL;DR
Kabupaten Sambas terletak di ujung barat laut Kalimantan Barat, berbatasan langsung dengan Malaysia (Sarawak) dan Laut Natuna. Luasnya sekitar 6.395 km² dengan populasi lebih dari 650.000 jiwa yang terbagi dalam 19 kecamatan. Wilayah ini adalah bekas pusat Kesultanan Sambas, penghasil tenun songket lunggi berusia berabad, dan memiliki Pantai Paloh sepanjang 63 km yang menjadi habitat peneluran penyu langka.
Dari peta Kalimantan Barat, Kabupaten Sambas menempati pojok paling atas: berbatasan dengan negara bagian Sarawak, Malaysia, di sebelah utara, dan menghadap Laut Natuna di barat. Posisi ini membuat Sambas punya karakter yang berbeda dari kabupaten lain di Kalimantan Barat. Jauh dari ibu kota provinsi Pontianak, tapi dekat dengan jalur perdagangan lintas batas yang sudah aktif sejak abad ke-13.
Sambas memang tidak mudah dijangkau dari pusat provinsi, tapi justru itulah yang membuat banyak sisinya tetap terjaga: keraton kesultanan Islam yang masih berdiri di persimpangan tiga sungai, tradisi menenun kain dengan benang emas yang sudah berlangsung lebih dari tiga abad, dan garis pantai yang menjadi salah satu tempat peneluran penyu terpanjang di Indonesia. Simak profil lengkapnya berikut ini.
Letak Geografis Kabupaten Sambas
Kabupaten Sambas memiliki luas daratan sekitar 6.395,70 km², atau sekitar 4,36% dari total luas Provinsi Kalimantan Barat. Wilayah ini terbagi ke dalam 19 kecamatan dan 195 desa. Batas wilayahnya: utara berbatasan dengan Sarawak (Malaysia) dan Laut Natuna, barat dengan Laut Natuna, selatan dengan Kota Singkawang dan Kabupaten Mempawah, serta timur dengan Kabupaten Bengkayang.
Garis pantai Sambas membentang sepanjang sekitar 198 km, mulai dari Kecamatan Selakau di selatan hingga Tanjung Datok di Kecamatan Paloh di ujung utara. Sebagian besar pantainya berpasir dan masih relatif alami. Di pedalaman, terdapat tiga daerah aliran sungai (DAS) utama: DAS Paloh, DAS Sebangkau, dan DAS Salakau. Ibu kota kabupaten berada di Kecamatan Sambas, yang secara geografis terletak hampir di tengah wilayah kabupaten, di pertemuan Sungai Sambas Kecil, Sungai Teberau, dan Sungai Subah.
Dari Kesultanan Sambas hingga Kabupaten Otonom
Sejarah Sambas tidak bisa dilepaskan dari Kesultanan Sambas, yang asal-usulnya terhubung erat dengan Brunei Darussalam. Kesultanan ini berdiri pada 1675 M di bawah Sultan Sulaiman, raja pertama Kerajaan Sambas. Sejak saat itu, Sambas berkembang menjadi kota pelabuhan penting yang terhubung dengan jalur perdagangan di Laut Natuna dan Laut Cina Selatan. Peninggalan fisik paling ikonik dari era kesultanan adalah Keraton Alwatzikhoebillah, komplek istana seluas 16.781 m² di Kelurahan Dalam Kaum, Kecamatan Sambas. Bangunan berbahan kayu ulin (belian) ini didirikan pada 1933 semasa pemerintahan Sultan Muhammad Mulia Tsjafioedin, dan terdiri dari tiga bangunan utama: tempat tinggal sultan, dapur keraton, dan kantor sultan.
Tepat di depan keraton berdiri Masjid Jami’ Sultan Muhammad Syafi’oeddin II, salah satu masjid tertua di Sambas dengan arsitektur campuran Arab, Belanda, dan Melayu. Kabupaten Sambas yang ada sekarang merupakan hasil pemekaran pada tahun 2000. Sebelumnya, sejak 1960, wilayah Kabupaten Sambas juga mencakup Kota Singkawang dan Kabupaten Bengkayang, yang kemudian memisahkan diri menjadi daerah otonom tersendiri.
Penduduk dan Keberagaman Etnis
Jumlah penduduk Kabupaten Sambas pada semester pertama 2025 tercatat sekitar 653.502 jiwa. Komposisi etnisnya mencerminkan keberagaman yang khas Kalimantan: suku Melayu mendominasi wilayah pesisir dengan tradisi maritim dan budaya Islam yang kuat, sementara masyarakat Dayak banyak bermukim di pedalaman. Selain itu, ada komunitas Tionghoa, Bugis, dan Jawa yang juga bagian dari kehidupan sosial di sini.
Berdasarkan data Dukcapil 2025, 89,07% penduduk kota Sambas memeluk Islam, diikuti Buddha 6,92%, dan Kristen 3,81%. Kepadatan penduduk tidak merata antar kecamatan: Kecamatan Pemangkat menjadi yang terpadat dengan 403 jiwa per km², sementara Kecamatan Sajingan Besar yang luasnya mencapai 21,75% dari total wilayah hanya dihuni 7 jiwa per km².
Ekonomi Kabupaten Sambas: Pertanian dan Pertumbuhan
Perekonomian Kabupaten Sambas bertumpu pada sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan. Berdasarkan data BPS Kabupaten Sambas, produk domestik regional bruto (PDRB) Sambas pada 2024 mencapai Rp 28,56 triliun dengan pertumbuhan 4,74% secara tahunan. PDRB per kapita tercatat Rp 43,61 juta per tahun.
Posisi geografis Sambas di perbatasan Malaysia turut memberi warna pada perekonomian setempat. Aktivitas perdagangan lintas batas di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk menjadi salah satu pintu masuk barang dan mobilitas warga antara dua negara. Di sisi pertanian, komoditas unggulan mencakup padi, kelapa sawit, dan berbagai tanaman hortikultura. Pertumbuhan sektor bangunan juga cukup mencolok seiring pembangunan infrastruktur kawasan perbatasan yang terus berjalan.
Tenun Songket Sambas, Kain Tradisional Berusia Tiga Abad
Jika ada satu hal yang paling dikenal dari Sambas dalam konteks budaya, itu adalah tenun songketnya. Menurut Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat, tenun songket Sambas dikenal masyarakat setempat dengan nama kain lunggi atau kain bannang ammas, karena menggunakan benang berwarna kuning keemasan. Tradisi ini sudah ada sejak berdirinya Kesultanan Sambas di abad ke-17 dan dikerjakan secara tradisional oleh kaum perempuan, baik ibu rumah tangga maupun remaja putri. Untuk satu lembar kain dengan panjang sekitar dua meter, dibutuhkan waktu pengerjaan antara 20 hari hingga satu bulan.
Motif yang paling khas adalah pucuk rebung, berbentuk segitiga memanjang dan lancip menyerupai tunas bambu muda. Sentra produksinya ada di Desa Sumber Harapan, Kecamatan Sambas, yang kini berstatus desa wisata budaya. Pada 2014, desa ini meraih rekor MURI untuk kain tenun songket terpanjang. Produk tenun dari Sambas sudah dipasarkan ke Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Bagi yang berencana membeli, kain ini tidak boleh dicuci dengan detergen biasa. Cukup gunakan sampo atau sabun mandi, lalu angin-anginkan di tempat teduh.
Wisata Alam: Pantai Paloh dan Destinasi Lainnya
Pantai Paloh dan Konservasi Penyu
Di ujung utara Sambas, Kecamatan Paloh menyimpan salah satu fenomena alam yang langka. Pantai Paloh memiliki bentang pantai sepanjang sekitar 63 km yang menjadi habitat peneluran penyu laut. Setidaknya empat spesies penyu bertelur di sini: penyu hijau, penyu sisik, penyu lekang, dan penyu belimbing. Kawasan ini sudah ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD). Sejak 2022, masyarakat lokal yang tergabung dalam kelompok sadar wisata mengembangkan kawasan ini menjadi wisata edukatif: pengunjung bisa ikut melepas tukik (anak penyu) ke laut tanpa dikenai tiket, hanya donasi sukarela.
Perlu diingat bahwa untuk mencapai Pantai Paloh, terutama bagian yang dikenal sebagai Pantai Temajuk dan Pantai Selimpai, perlu memperhitungkan waktu tempuh yang cukup panjang dari pusat kota Sambas. Rute ke Pantai Temajuk misalnya memakan waktu sekitar 4,5 jam berkendara ditambah penyeberangan sungai. Kondisi jalan di beberapa segmen belum sepenuhnya beraspal. Datang di musim yang tepat juga penting, karena penyu bertelur hanya pada waktu-waktu tertentu.
Destinasi Lain di Kabupaten Sambas
Selain Pantai Paloh, Sambas punya beberapa destinasi yang cukup beragam. Danau Sebedang di Kecamatan Sebawi menawarkan panorama danau dikelilingi perbukitan dan Hutan Lindung Gunung Majau. Lebih viral belakangan ini adalah Danau Biru di Kecamatan Selakau Timur, danau bekas tambang dengan air berwarna biru pekat yang mencolok. Pengunjung tidak dianjurkan berenang di sini karena alasan keamanan, tapi pemandangan dari tepinya memang menarik. Untuk wisata sejarah dan budaya, Keraton Alwatzikhoebillah di pusat Kota Sambas adalah titik wajib. Masih berdiri kokoh dari kayu ulin, keraton ini memberikan gambaran langsung tentang kejayaan Kesultanan Sambas.
Kuliner Khas Sambas
Makanan paling ikonik dari Sambas adalah Bubbor Paddas, atau bubur pedas dalam bahasa Melayu setempat. Tidak seperti namanya yang menyebut “pedas”, hidangan ini sebenarnya bukan bubur yang terasa pedas menyengat, melainkan campuran beras sangrai dan beragam sayuran yang dimasak bersama rempah-rempah. Rasa akhirnya lebih ke gurih dan segar. Bubbor Paddas biasa disajikan saat sarapan atau pada acara-acara adat. Selain itu, ada juga Tempoyak (olahan durian fermentasi), dan Padda’, makanan berbahan ikan yang menjadi lauk sehari-hari masyarakat pesisir.
Kabupaten Sambas adalah daerah yang identitasnya terbentuk dari banyak persilangan: tradisi Melayu pesisir berjalan berdampingan dengan adat Dayak di pedalaman, warisan Kesultanan hidup bersamaan dengan dinamika kawasan perbatasan. Bagi yang tertarik mengunjungi, persiapkan perjalanan dengan baik. Jarak menuju beberapa destinasinya memang tidak pendek, dan kondisi jalan di wilayah utara masih butuh perencanaan ekstra.